5 Hal yang Harus Dihindari dalam Keuangan Saat PPKM

Sebelum pandemi, mengatur keuangan juga bukan hal gampang. Di tengah pandemi, mengatur keuangan tampaknya lebih menantang lagi. Terlebih dengan kasus penularan Covid-19 yang melonjak tajam sejak Juni 2021, membuat pemerintah kembali memberlakukan PPKM, seperti PSBB pada tahun 2020. 

Yang tadinya hidup sudah agak longgar, kini kita harus kembali waspada. Khususnya dalam mengatur dan menentukan prioritas keuangan. Sebab, ketidakpastian pandemi masih nyata. Untuk bisa bertahan dengan baik, maka kita perlu memiliki bekal keuangan yang cukup. Selain mengatur uang dengan baik, cara lainnya juga dengan menghindari 5 hal yang bisa berbahaya bagi kestabilan keuangan berikut ini. 

Tidak mencatat pemasukan dan pengeluaran

Pencatatan keuangan adalah hal mendasar sekaligus tumpuan dalam pengaturan keuangan. Dengan adanya catatan besaran pemasukan serta berbagai pengeluaran, kita jadi bisa tahu dan punya gambaran jelas: seberapa besar kemampuan finansial kita dan seberapa besar kebutuhan kita. Kalo hanya dikira-kira tanpa adanya catatan, maka nggak heran kalo kita sering bingung uang habis ke mana, atau baru tanggal sekian belas, kok udah harus makan mie instan terus, ya?

Tidak menyisihkan uang untuk ditabung atau bayar asuransi

Di tengah banyaknya kebutuhan, tabungan dan asuransi kesehatan adalah dua hal penting yang harus tetap diisi dan dibayar sebagai amunisi untuk bertahan di masa pandemi. Tabungan bisa menjadi dana cadangan jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Maka dari itu, harus diniatkan dan konsisten misalnya dibuatkan rekening autodebet dari rekening gaji. Meski baru bisa nabung sedikit, asalkan rutin tiap bulan, sudah cukup membantu, lho. 

Begitu juga dengan asuransi kesehatan, di mana kesehatan adalah hal yang sangat mahal dan harus dijaga dengan baik khususnya selama masa pandemi. Jika belum mampu punya asuransi swasta yang preminya lebih mahal, paling tidak milikilah akses BPJS Kesehatan yang mumpuni. Bayar tagihan secara rutin agar status BPJS kita tetap aktif dan bisa digunakan jika sewaktu-waktu butuh. 

Menambah cicilan yang tidak perlu

Bosen di rumah aja, scroll-scroll online shop, nemu barang bagus tapi mahal terus kepikiran buat nyicil? Lebih baik, pikirkan ulang, deh. Menambah cicilan yang tidak perlu atau kurang penting hanya akan memberatkan beban keuangan di masa pandemi. Daripada dibuat bayar cicilan, lebih baik dialokasikan ke tabungan atau dana darurat, toh?

Lain halnya, jika cicilan dilakukan untuk hal-hal yang sangat penting. Misalnya: mencicil laptop anak untuk sekolah online atau beli laptop untuk kerja di rumah. Dengan kondisi tersebut, cicilan bisa sangat membantu kita untuk memperoleh barang yang bisa menunjang aktivitas, namun cashflow tetap lancar. 

Ditambah sekarang adanya layanan kredit sekaligus aplikasi pinjaman uang online seperti Kredivo bisa makin mempermudah kita untuk mendapat akses kredit dengan bunga rendah atau bahkan tanpa bunga. Yak, Kredivo menyediakan layanan kredit online untuk berbagai barang dengan bunga 0% untuk tenor 30 hari dan 3 bulan. Sementara untuk tenor 6 dan 12 bulan, bunganya cuma 2,6% per bulan tanpa uang muka. Plus, minimum transaksinya cuma 500 ribu aja. 

Layanan Kredivo juga bisa dinikmati atau digunakan di berbagai e-commerce ternama seperti Lazada, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, JD.id, dan lain-lain. 

Pinjam uang untuk kebutuhan nondarurat

Selain menambah cicilan yang tidak perlu, pinjam uang untuk kebutuhan tidak mendesak juga perlu dihindari selama masa PPKM dan pandemi. Misalnya, kebutuhan belanja barang yang bukan kebutuhan primer seperti halnya makanan atau pakaian. Atau untuk uang muka kredit barang lain seperti kendaraan atau bahkan rumah. Jika ya, maka kamu perlu mempertimbangkan sebaik-baiknya apakah hal itu benar-benar diperlukan? Atau bisa ditunda sampai kondisi membaik?

Impulsif ikutan berbisnis atau investasi

Di masa pandemi, setidaknya ada dua aktivitas yang jadi makin ramai dijalani orang: berbisnis dan investasi saham. Berbisnis, tujuannya jelas: ada yang untuk putar uang, banting setir, hingga bertahan hidup. Namun, berbisnis juga perlu dipertimbangkan dan direncanakan dengan matang. Bukan asal punya modal, lalu langsung jalan. Jika kamu tergiur untuk berbisnis untuk tambah-tambah penghasilan, pastikan kamu sudah melakukan riset terkait bisnis yang ingin dijalankan dan merencanakan dengan matang ya supaya modal yang dikeluarkan jadi tidak sia-sia. 

Selain bisnis, investasi saham atau kripto juga makin populer di tengah pandemi. Banyak orang “pamer” di media sosial terkait investasi yang dilakukannya yang mungkin bisa menggoda kamu untuk ikut-ikutan berinvestasi saham tanpa tau atau mempelajari ilmunya. Padahal, hal tersebut sangat berisiko, lho. Dan setiap jenis saham perlu dipelajari profil risikonya. Kita juga perlu mengukur kemampuan finansial: apakah kita berada dalam kondisi yang pas untuk bisa berinvestasi?

Kalo nggak punya uang dingin, kebutuhan masih ada yang belum terpenuhi, atau tabungan bahkan nggak ada sama sekali, artinya kamu belum berada di posisi yang pas untuk berinvestasi saham. Apalagi, jika uang investasinya dilakukan dari hasil berutang. Jangan, ya!

Leave a Comment